Filsafat

Uang

A. Bagus Laksana, SJ

 

“Uang itu berguna untuk melakukan banyak hal. Akan tetapi, ketika hatimu terikat padanya, uang akan menghancurkanmu,” demikianlah peringatan Paus Fransiskus. Keterikatan kita dengan uang bisa terjadi dalam pelbagai bentuk. Kalaupun tidak terikat pada uang, masalah dan kehancuran bisa terjadi juga ketika kita cuek, tidak peduli, atau hanya mempercayakan urusan keuangan pada teman ataupun orang yang sudah kita kenal.

Alkisah, seorang kardinal pejabat keuangan di Vatikan memberi pinjaman uang sebesar 20 juta dollar AS dari Bank Vatikan kepada seorang temannya yang memiliki perusahaan film. Seperti bisa diduga, kredit ini kemudian macet dan tak kembali. Banyak orang kemudian curiga atas seluruh proses pengucuran kredit ini. Apakah pengucuran ini sudah mengikuti semua prosedur perbankan yang semestinya? Uang 20 juta dollar adalah jumlah yang tidak sedikit.

Akhir-akhir ini, kita juga sering mendengar pelbagai persoalan keuangan di beberapa keuskupan, kongregasi, dan lembaga-lembaga kita di tanah air. Dalam banyak persoalan keuangan Gereja, ternyata unsur kepemimpinan (leadership) memiliki peran yang sangat penting. Setiap pejabat dan pengambil keputusan dalam Gereja harus memiliki kedisiplinan keuangan serta perhatian terhadap soal manajemen keuangan pada umumnya demi pelayanan yang selalu membutuhkan pengaturan keuangan yang sehat dan bukan demi kepentingan sendiri. Harus diingat, Gereja Katolik itu begitu besar. Karya-karya sosial Gereja Katolik itu adalah yang terbesar di dunia dan melayani 20 juta orang (Gerald Posner, God’s Bankers: A History of Power and Money at The Vatican, 2015).

Paus Benediktus konon tidak tertarik pada soal keuangan. Itulah mengapa beliau tidak “menyentuh” Bank Vatikan. Lain halnya dengan Kardinal Bergoglio, yang begitu dipilih menjadi Paus, langsung memerhatikan pengelolaan keuangan Gereja. Setelah melewati pertimbangan yang lama, Paus Fransiskus membuat keputusan untuk meneruskan Bank Vatikan. Seperti diketahui, ada banyak persoalan yang memalukan mengenai bank ini, terutama yang terkait dengan pejabat bank, baik awam maupun klerus. Bank Vatikan memang tidak dibubarkan. Akan tetapi, banyak pembaruan harus dilakukan terhadap lembaga ini.

Paus Fransiskus bergerak cepat dan mengeluarkan motu proprio tentang pencucian uang (money laundering), pembiayaan terorisme, dan transparansi agar sesuai dengan standar aturan keuangan Uni Eropa. Otoritas keuangan Eropa mengakui, Vatikan telah mengadakan banyak pembaruan yang memiliki akibat baik. Meskipun demikian, mereka tetap merekomendasikan pengawasan yang ketat. Vatikan pun menyewa jasa perusahaan besar seperti Ernst & Young, Deloitte & Touche, dan McKinsey & Company untuk membantu pengawasan ini. Paus Fransiskus juga membentuk lembaga baru, yaitu Sekretariat Ekonomi untuk mengatur urusan keuangan semua unsur Kuria. Bank Vatikan pun tidak lagi diberi hak untuk melakukan jual beli property dan perdagangan saham (Posner, God’s Bankers, 2015).

Sikap kita terhadap uang harus berubah. Di zaman kita ini, perekonomian sering bergejolak tidak menentu. Tentu hal ini harus disikapi dengan kewaspadaan yang tiada henti. Dalam keadaan normal ketika perekonomian stabil, terkadang kita merasa aman dan merasa memiliki uang yang cukup untuk lembaga kita. Akan tetapi, ada banyak faktor yang bisa muncul mendadak. Dalam keadaan ekonomi yang biasa pun kita bisa kehilangan banyak uang walaupun kita tidak melakukan kesalahan atau keteledoran.

 

 

 

 

Selengkpanya di majalah rohani-september-2019

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *