Udar Rasa

Setia Sampai Akhir

Jaka Prastana

 

 

Semenjak keempat anaknya menikah, Bapak dan Ibu hanya tinggal berdua karena anakanaknya bekerja dan tinggal di luar kota. Hanya sebulan sekali atau saat libur, anak dan cucu mengunjungi mereka. Lantaran usia semakin renta dan jauh dari anak cucu, maka apa pun dikerjakan berdua. Usia Bapak hampir delapan puluh dan ibu hampir tujuh puluh tahun. Usia mereka terpaut sembilan tahun.

Pada masa tuanya, Bapak terkena sakit diabetes atau sakit gula. Aku tidak ingat mulai kapan terkena sakit ini karena saat beliau masih aktif berdinas di Bimas Katolik, Kementerian Agama, belum sakit diabetes. Bahkan, saat aku pergi merantau ke luar kota, Bapak sehat-sehat saja. Oleh karena sakit itu, beliau harus secara rutin kontrol gula darahnya ke dokter atau puskesmas sebulan sekali. Tentu saja Ibu yang menemaninya.

Bertahun-tahun beliau bergelut dengan diabetes. Badannya semakin ringkih. Biarpun badan mulai berkurang tenaganya, beliau tidak mau tinggal diam, segala aktivitas tetap dilakukan. Pagi jalan-jalan, setelah itu menyapu halaman, beres-beres rumah, dan sebagainya. Setiap hari Minggu masih rajin pergi ke gereja. Kegiatan kampung dan kegiatan gereja masih tetap diikuti. Doa-doa lingkungan, ibadat APP, Bulan Kitab Suci, Adven, Rosario, beliau rajin hadir sampai tenaga tidak kuat menahan raganya.

Peristiwa bermula dari kebiasaan Bapak menyapu halaman pada pagi hari. Tanpa sengaja jari kelingking kakinya terantuk batu. Tidak terluka, hanya sedikit memar. Dibawa ke dokter, tetapi dokter mengatakan
tidak apa-apa. Ternyata beberapa hari kemudian jari tersebut membengkak, lalu membusuk dan harus diamputasi. Bapak harus merelakan dua jari kakinya, kelingking dan jari manis diamputasi. Diabetes juga melemahkan saraf-saraf di tubuh Bapak.

Sejak saat itulah Bapak terpaksa harus terbaring di tempat tidur. Karena saraf-saraf melemah, untuk duduk sendiri Bapak tidak mampu. Kalau mau duduk harus dibantu, kalau mau melihat luar kamar, misalnya ke ruang tamu atau halaman, harus didorong menggunakan kursi roda. Luka bekas amputasi juga terus memerlukan perawatan. Dua atau tiga hari sekali perawat datang ke rumah untuk mengobati dan mengganti perban. Hampir satu tahun luka-luka tersebut baru benar-benar sembuh. Inilah beban terberat yang harus dijalani Bapak dan Ibu.

Hampir dua tahun Bapak terbaring di tempat tidur. Hanya doa yang bisa dilakukan siang dan malam. Ibu adalah wanita perkasa nan setia yang mendampingi dan melayani segala keperluannya. Pagi dan sore hari membersihkan tubuh Bapak, mengganti pakaian, menyuapi, dan memberi obat. Siang hari menyuapi dan memberi obat. Semuanya dilakukan sendiri. Hanya sesekali dibantu saudara atau anak dan cucu ketika mereka datang.

Malam pun Ibu tidak bisa tidur nyenyak karena Bapak sering buang air kecil, umum terjadi pada penderita diabetes. Ketika anak-anak menanyakan kepada Ibu, apakah perlu ada yang membantu, Ibu menjawab, “Tidak usah. Ibu masih sanggup. Ibu sendiri yang akan merawat Bapak.”

Dua tahun wanita perkasa ini merawat suaminya dengan penuh kasih dan pengorbanan. Berdagang di pasar ditinggalkan demi merawat orang yang dicintainya. Kekuatan doa dan cinta yang membuat Ibu mampu menjalani itu semua. Ibu selalu berpegang pada 1 Korintus 13:…….

 

 

 

Selengkapnya di utusan-agustus-2019

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *