Bagi Rasa

Proyek Literasi di Ujung Timur Indonesia

F.X. Dwi Pamungkas

 

Pada 1 Juni 2018 saya tiba di Papua. Mulai saat itu pula, saya menjadi guru relawan dengan tugas utama memotivasi guru-guru lokal dan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Papua di SD YPPK Fransiskus Xaverius, Desa Waghete, Kabupaten Deiyai, Pegunungan Sudirman. Inilah tugas perutusan yang sungguh menantang, tetapi juga menyenangkan hati.

Apabila saya diminta untuk merefleksikan apa yang saya kerjakan saat ini, saya akan menjawab bahwa saya mengawali semua ini dari sebuah panggilan jiwa. Panggilan jiwa yang seperti apa? Yaitu penggilan dari dalam hati yang mendorong saya untuk dapat bekerja sama dengan Allah demi kemuliaan-Nya yang lebih besar. Konkretnya, saya yakin bahwa Allah menghendaki dan memberikan penyelenggaran Ilahi-Nya kepada saya agar mau mendidik anak-anak sekolah dasar yang belum memiliki akses terhadap fasilitas pendidikan yang baik.

Saya memang memiliki keprihatinan terhadap pendidikan anak-anak dari keluarga-keluarga miskin. Mereka seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik sebagaimana anak-anak lain yang hidupnya mapan karena lahir dalam lingkungan keluarga berada. Semua anak, apa pun status ekonomi keluarga mereka, sama-sama memerlukan perhatian dan pelayanan yang baik, dalam hal ini soal mutu pendidikan mereka.

Ketika masih kuliah dulu, saya menjawab panggilan itu dengan menjadi guru relawan di salah satu karya sosial milik Serikat Jesus, yaitu Perkampungan Sosial Pingit (PSP). Tepatnya, karya sosial ini terletak di Kampung Pingit, tepi Sungai Winongo, Kota Yogyakarta. Perkampungan Sosial Pingit adalah
sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang community development yang telah dirintis sejak tahun 1965 oleh Rm. Benhard Kieser, SJ.

Beliau yang saat itu adalah calon imam Serikat Jesus yang tinggal di Kolese St. Ignatius, Yogyakarta, menginisiasi pelayanan sederhana bagi keluarga-keluarga tunawisma di sekitar Yogyakarta. Dalam konteks krisis ekonomi berat pascaperistiwa 1965, pelayanan di Pingit menjadi fenomena mencolok di Yogyakarta. Saat ini, selain memberikan pendampingan kepada keluarga-keluarga tunawisma, PSP juga menyelenggarakan pendidikan psiko-sosial bagi anak-anak keluarga miskin di sana.

Kegiatan rutin yang biasa kami lakukan selama di sana adalah menyelenggarakan program belajar anak-anak setiap hari Senin dan Kamis pada malam hari. Anak-anak ini berasal dari jenjang usia antara TK hingga SMP. Kegiatan dimulai dengan kelas besar yang diawali dengan bernyanyi dan bermain bersama untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan menciptakan kegiatan-kegiatan bersama dalam kelas besar itu, kami merangsang anak-anak untuk lebih termotivasi dan belajar dalam kelas sesuai dengan jenjang masing-masing.

Dalam kelas yang sesuai setiap jenjangnya masing-masing itu, kami belajar tentang materi-materi yang selama ini sudah mereka dapatkan di sekolah, sekaligus memberikan materi yang baru untuk menambah wawasan mereka. Setelah kegiatan belajar-mengajar selesai, seluruh guru relawan berkumpul bersama untuk mengadakan evaluasi dan refleksi dari kegiatan belajar-mengajar yang sudah dilakukan. Itulah secara singkat kegiatan rutin yang saya lakukan sebagai guru relawan selama hampir satu tahun di Perkampungan Sosial Pingit.

 

 

 

Kisah selanjutnya di Majalah Rohani Juli 2019 rohani-juli-2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *