Keranjang

Menjadi Rendah Hati

C. Retno Susetyorini

 

 

Rendah hati merupakan suatu nilai karakter hidup yang positif untuk dihayati dalam hidup bersama. Lawan kata rendah hati adalah “sombong” atau “congkak hati” yang merupakan suatu nilai hidup yang biasanya dipandang negatif. Oleh karena itu, dalam pendidikan ditekankan pengembangan diri menjadi orang yang rendah hati dan tidak menjadi sombong.

Dalam Tesaurus dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud Republik Indonesia tersurat, rendah hati mempunyai sinonim antara lain bersahaja, jatmika, khusyuk, lembut hati, sopan, santun, sederhana, tawaduk. Orang yang rendah hati dalam hidup sehari-hari menunjukkan diri sebagai orang yang bersahaja, sederhana, lembut hati, sopan, santun, dan semacamnya.

Manusia adalah makhluk sosial. Karakter jiwa seseorang yang teraktualisasi keluar dalam perilaku: pikiran, perkataan, dan perbuatan dirasakan dampaknya oleh orang-orang sekitar yang mendengar, mengalami, atau pun melihat. Pada umumnya orang merasakan senang dan tidak canggung bergaul, bekerja sama, serta hidup dengan orang-orang yang rendah hati dengan ciri-ciri seperti tersebut. Biasanya orang yang rendah hati mudah diterima oleh komunitasnya, bahkan masyarakat pada umumnya. Sebaliknya, orang yang sombong, angkuh, dan semacamnya dinilai kurang atau bahkan tidak baik dan biasanya sulit diterima oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu, setiap orang perlu belajar menjadi orang yang rendah hati.

Menjadi orang yang rendah hati terus didaraskan oleh umat Katolik ketika mendoakan bagian akhir dari Litani Hati Kudus Yesus, “Tuhan Yesus yang lembut hati dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti hatimu.” Berdoa mohon kepada Tuhan Yesus demikian menjadi cara yang manjur menjadikan diri sebagai orang yang rendah hati. Doa yang setiap kali dan sering kali dipanjatkan ke hadirat Allah, menjadikeinginan, kehendak, serta niat baik nan mulia ini kita harapkan Allah berkenan mengabulkan.

Pada diri orang yang mendoakannya secara terus-menerus dan berulangulang, tahap demi tahap terbentuk pola perilaku: berpikir, berperasaan, berkata,…….

 

 

 

Selengkapnya di utusan-agustus-2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *