Bagi Rasa

Membaca (Teks) Sang Liyan

Ahmad Shalahuddin M.

Minggu, 31 Maret 2019, Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta kedatangan tamu dari komunitas YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community). Menggunakan ruang-ruang tamu di Kolsani, orang-orang muda ini membaca teks Alkitab dan Al-Qur’an secara bersama-sama dan selanjutnya saling membagikan inspirasi yang diperoleh dari pengalaman membaca dua teks tersebut. Istilah bagi aktivitas bersama ini adalah Scriptural Reasoning (SR).

KEGIATAN membaca kitab suci dari dua tradisi agama ini bukan untuk mencari kesepakatan, tetapi untuk memahami perbedaan satu dengan yang lain. Diharapkan, kegiatan ini dapat memperdalam pemahaman juga memperdalam hubungan dengan para sahabat dari agama dan tradisi religius yang berbeda. Pada kegiatan SR yang diselenggarakan siang itu, teks yang dibaca dari Matius 25:31-46 dan QS. Al-Qashash [28]:20-28. Teks Matius adalah mengenai pengadilan terakhir, sementara teks Al-Qashash mengenai kisah Musa yang melarikan diri dari Firaun dan sampai di tanah Mad-yan. Tema bersama yang hendak diangkat dari kedua teks tersebut adalah mengenai pengungsian dan hospitalitas terhadap orang asing.

Dua Sisi Agama
Agama dalam perkembangannya menjadi entitas dengan dua wajah yang saling bertolak belakang, menjadi bagian dari konflik (part of conflict) tetapi juga menjadi bagian dari perdamaian (part of peace). Saat ini, agama yang mempunyai pesan universal untuk seluruh umat manusia kehilangan harga dirinya tatkala hanya menjadi alat legitimasi untuk melakukan kekerasan. Agama tidak lagi menjadi pandu dalam kehidupan yang menghasilkan manusia berakhlak.

Agama, yang turun dari hadirat Ilahi itu, telah mengalami degradasi. Ia ada demi membuat umat manusia hidup teratur atau beradab. Sayang sekali, ia berubah menjadi alat untuk melakukan dehumanisasi—merendahkan derajat manusia. Maka, agama kemudian berada pada persimpangan jalan. Suatu jalan telah membawanya digunakan oleh segelintir kelompok sebagai alat untuk melakukan kekerasan serta alat untuk memukul sang liyan. Jika dibiarkan demikian, agama tidak lagi aktual dan relevan dalam menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Namun demikian, tidak mungkin terusterusan mengutuk kegelapan. Harus ada cahaya dalam kegelapan tersebut. Harus ada upaya konstruktif yang dilakukan. Berdiam diri tanpa melakukan apa-apa takkan menyelesaikan persoalan tersebut. Dehumanisasi atas nama agama perlu direspons dalam tindakan tindakan yang nyata. “Building Peace Generation Through Young Peacemakers,” demikian bunyi dari mission statement sebuah komunitas mahasiswa yang melakukan dialog lintas iman yang menamakan dirinya Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).

Komunitas ini menyasar kaum muda untuk membangun perdamaian di tengah maraknya kekerasan atas nama agama. Komunitas ini melakukan upaya preventif karena kelompokkelompok ekstrem tertentu juga menyasar kaum muda. Fokus YIPC ada pada aras kaum muda, khususnya mahasiswa, dengan memberikan pendidikan perdamaian serta kesempatan-kesempatan dialog lintas iman.

Sekilas tentang YIPC

Mulanya adalah pelatihan 12 nilai perdamaian pada Juli 2012, yang diinisiasi…..

 

 

Selengkapnya di rohani-agustus-2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *