Lembar Pastor

Gereja yang Merangkul

Ino Christino, SMM

Salah satu panggilan Gereja dalam dunia dewasa ini adalah menjadi Gereja yang merangkul. “Gereja yang merangkul” merujuk pada suatu sikap tatkala Gereja membuka dirinya, mengulurkan tangan, menjumpai, dan memeluk sesamanya. Dengan kata lain, Gereja yang merangkul adalah Gereja yang selalu bergerak keluar, yang mengarahkan perhatiannya pada kesedihan, kepiluan, dan kecemasan sesama manusia agar terwujudlah sukacita yang penuh dalam Tuhan.

Gereja harus merangkul semua umat manusia, terutama mereka “yang miskin”. Yang miskin dalam tulisan ini tidak direduksikan pada mereka yang miskin secara materi, melainkan setiap orang yang hidupnya ditindas atau tertindas, yang diasingkan, termarjinalkan, diabaikan, disingkirkan, dan dikucilkan. Yang miskin itu juga adalah yang terbatas dalam Roh dan pengetahuan akan Allah. Kepada mereka inilah Gereja harus menyapa, membuka tangan, dan merangkul lalu membawa mereka pada sebuah sukacita oleh sebab mereka juga adalah ciptaan Tuhan, entah apa pun status atau agamanya.

Panggilan untuk merangkul ini haruslah ditempatkan dalam konsep bahwa semua orang adalah ciptaan Tuhan yang berhak mendapatkan perhatian, cinta, dan keadilan yang sama seperti semua orang pada umumnya. Dengan perspektif ini, panggilan Gereja untuk merangkul sesamanya tidak dibatasi hanya pada sesama umat beriman atau yang segolongan dalam status sosial. Panggilan Gereja untuk merangkul sesamanya adalah sebuah aktivitas “menjadi”. Artinya, panggilan ini berlangsung terus-menerus dari dulu sampai sekarang dan seterusnya. Karena itu, Gereja tidak boleh berhenti melaksanakan tugas ini sebab ini adalah tugas yang diemban oleh Yesus sendiri kepada para murid-Nya, yakni menjadikan semua bangsa murid-Nya.

Gereja yang Bergerak Keluar

Ciri pertama Gereja yang merangkul adalah bergerak keluar. Merangkul mengandaikan adanya sikap bergerak keluar, keluar dari dirinya dan menjumpai sesamanya. Tanpa sikap semacam ini mustahil Gereja bisa merangkul sesamanya. Gereja yang bergerak keluar adalah Gereja yang sudah memiliki arah dan tujuan mengenai mengapa ia harus bergerak keluar dan kepada siapa ia harus menuju.

Dalam hal ini Gereja harus tahu bagaimana menempatkan diri di hadapan kaum miskin dan memperlakukan kaum miskin sehingga kaum miskin merasa dijumpai, disapa, dan dirangkul oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Gereja perlu menampilkan wajah Allah yang berbelas kasih, yang membela martabat orang miskin, yang menyembuhkan luka-luka kepedihan dan kegelisahan yang tak terbatas dari kaum miskin.

Untuk bisa mewujudkan hal ini, Gereja harus mengosongkan dirinya, meninggalkan segala kemewahannya dan menampilkan diri sama seperti orang miskin. Adalah mustahil untuk menyapa dan merangkul kaum miskin kalau pada saat yang sama Gereja memamerkan segala kepunyaannya.

Paus Fransiskus dalam seruan Apostoliknya yang pertama, Evangelii Gaudium, dengan tegas mengatakan, “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” (EG 49).

Dengan menegaskan hal ini, Bapa Suci hendak mengajak Gereja untuk bergerak keluar. Ini adalah seruan yang mendesak mengingat begitu banyak orang di luar sana yang membutuhkan bantuan kita. Begitu banyak orang di luar sana yang hidup dalam kegelisahan, ketakutan, ketidakpastian mengenai masa depan, dan keragu-raguan akan kehadiran Allah dalam hidupnya.

Terhadap orang-orang seperti ini, Gereja harus mendekatinya, merangkul, dan memberikan penghiburan yang telah Gereja terima dari Yesus, sumber segala penghiburan. Kepada mereka ini Paus Fransiskus menyerukan supaya Gereja “memberikan mereka makan”. Gereja tidak boleh hidup dalam kekakuan karena peraturan yang membatasi Gereja untuk menyapa sesamanya.

 

 

 

Selengkapnya di rohani-agustus-2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *