Belajar Teologi

Eskatologi untuk “Generasi Internet” (1)

Benny Beatus Wetty, SJ

 

Eskatologi (dari kata Yunani, eschata = hal-hal akhir) adalah bidang teologi yang berbicara mengenai tujuan akhir manusia dan dunia. Eskatologi mengartikulasikan sebuah visi mengenai tujuan terakhir (ultimate aim) yang kepadanya semua makhluk ciptaan tertuju.

Secara tradisional, eskatologi berbicara mengenai imortalitas jiwa, kebangkitan badan, penghakiman, api penyucian, kedatangan Kristus yang kedua kalinya, kepenuhan akhir dunia (final consummation of the world), dan kerap kali memfokuskan perhatian pada apa yang terjadi setelah hidup ini (Jeannine Hill Fletter, “Eschatology”, 2011: 622). Karena berbicara mengenai “hal-hal terakhir”, maka tema eskatologi tampaknya “lebih tepat” dibahas setelah tema-tema klasik seperti Pewahyuan, Trinitas, Kristologi, Pneumatologi, Eklesiologi, Sakramentologi, atau Mariologi. Sebagai konsekuensinya, orang cenderung melihat eskatologi sebagai soal nanti dan hanya memiliki sedikit relevansi dibandingkan dengan doktrin Kristiani lainnya.

Tema yang Asing

Hal lain yang juga patut disayangkan adalah studi tentang eskatologi terbatas dalam lingkup para ahli teologi. Mahasiswa sarjana teologi masih asing dengan tema ini. Dalam homili, imam juga amat jarang berbicara tentang tema eskatologi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika eskatologi tidak menjadi perhatian.

Saya pernah melakukan wawancara sederhana terhadap sekelompok orang muda paroki. Sebelum menanyai mereka, saya memberi pengantar bahwa pertanyaan ini ada dalam konteks doktrin eskatologi, yang berbicara mengenai hal-hal akhir zaman (surga, api penyucian, atau neraka). Pertanyaan yang saya ajukan, “Apa yang menjadi kerinduan terdalam Anda sebagai orang muda?”

Jawaban yang mereka berikan beragam, mulai dari kerinduan memperoleh pengakuan diri, memiliki kepedulian dan kepekaan pada sekitar, memiliki rasa hormat dan penghargaan pada orang lain, sampai keinginan memiliki quality time bersama keluarga. Tidak ada jawaban yang menyentuh soal kebahagiaan di dunia yang akan datang.

Eskatologi juga semakin tidak akrab didengar karena kurangnya usaha untuk menghasilkan suatu interpretasi dan penyajian segar yang kontekstual. Padahal, eskatologi tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi setelah kematian, yang seolah-olah tak terhubung dengan kehidupan saat ini.

Jeannine Hill Fletter, misalnya, mengatakan bahwa eskatologi, dengan tatapan pada apa yang akan datang di pengujung masa depan, secara simultan merupakan sebuah evaluasi tentang apa yang “saat ini” dan “di sini” sejauh diterangi oleh kehidupan dan pribadi Yesus Kristus (“Eschatology”, 2017: 622). Ia hendak mengatakan bahwa selama pemikiran eskatologis berbicara mengenai tujuan akhir manusia dan masa depan tempat ciptaan menuju, eskatologi selalu berada dalam kontinuitas dengan masa sekarang.

Mengacu pada Fletter, kita dapat mengatakan bahwa soal kontekstualisasi menjadi sebab kurang akrabnya umat terhadap tema eskatologis. Padahal, ada asumsi bahwa setiap teologi memiliki konteks tertentu dan perhatian tertentu yang hendak disampaikan kepada orang-orang tertentu. Sebagai bagian dari teologi, eskatologi pun tidak dapat dibicarakan lepas dari tempat dan waktu tertentu.

Jürgen Moltmann pernah menulis, eskatologi juga dapat menjadi eskatologi post-modern ketika berhadapan dengan sebuah perhatian baru dengan aneka perbedaan, kompleksitas, pluralitas interes, budaya, dan lain-lain (“Can Christian Eschatology Become Post-Modern?” 1999: 263). Tema eskatologis akan menjadi segar apabila dikaitkan dengan perhatianperhatian manusia saat ini.

Internet: Perhatian Orang Zaman Ini

Perhatian baru macam apa yang telah menyita waktu dan tenaga orang zaman ini? Apalagi kalau bukan dunia digital. Saat ini, kita hidup di era internet. Era internet, merujuk pada Antonio Spadaro, sedang dan bahkan sudah mengubah cara berpikir dan bertindak kita, dan dengan demikian juga mengubah cara kita menghidupi iman kita. Bagi Spadaro, internet bukan lagi sebuah sarana yang secara total terpisah dari pikiran dan tubuh kita. Internet telah menjadi “suasana” tempat kita hidup di dalamnya, khususnya bagi kaum muda yang merupakan digital natives (Antonio Spadaro, Cybertheology: Thinking Christianity in the Era of the Internet, 2014: ix).

Terkait dengan eskatologi, maka soalnya adalah bagaimana membahasakan eskatologi tradisional secara baru bagi orang di era internet ini. Jalan yang ditempuh untuk menjawab pertanyaan itu bukan “memaksakan” apa yang dimiliki eskatologi agar didengarkan oleh orang zaman ini, melainkan terlebih dahulu “mendengarkan” “suara” orang zaman sekarang. Harapannya, eskatologi dapat “menyesuaikan diri” dan dapat sambung tanpa kehilangan inti ajarannya.

Era internet membuat masyarakat dunia secara mudah terhubung satu sama lain. “Keterhubungan” telah menjadi penanda zaman ini. Oleh karena itu, yang bisa menjadi pintu masuk doktrin eskatologi adalah konsep keterhubungan. Lewat aneka bentuk media sosial, internet telah menghubungkan orang tanpa sekat ruang-waktu dan primordialisme. Dengan itu, internet telah mendorong terbentuknya relasi dengan berbagai level tingkat kemendalaman dan keluasan. Sadar atau tidak sadar, internet memengaruhi imajinasi eskatologis kita.

 

 

Majalah Rohani rohani-agustus-2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *