Sabda yang Hidup

Amsal dan Si Bodoh

Bernadus Dirgaprimawan, SJ

 

Didimus si Buta (313-398), salah seorang Bapa Gereja, mengibaratkan Kitab Amsal sebagai sebuah pal (tonggak penanda jarak). Baginya, Amsal ataupun pepatah-pepatah bijak berfungsi layaknya pal.

Ada dua fungsi pal. Pertama, bagi seorang peziarah (perantau), pal memberikan informasi yang jelas tentang nama daerah dan jarak tempuh yang diukur. Kedua, pal juga memberi efek psikologis, yakni berupa kelegaan dan kepastian bahwa orang tersebut berada di rute yang benar. Dengan sejenak membaca informasi yang terpampang, ia secara tidak langsung berhenti sesaat untuk istirahat. Umumnya, pada zaman kekaisaran Roma, pal (miliarium) terbuat dari batu marmer ataupun granit yang dibentuk menyerupai obelisk mini.

Nah, begitulah kiranya salah satu cara bagi kita dalam membaca Amsal. Bayangkan, kita berada di sebuah perjalanan. Di beberapa tempat perhentian, akan kita jumpai papan informasi rute. Pada saat yang sama, rasa lega muncul manakala rute yang kita pilih ternyata juga telah membantu banyak orang sebelumnya mencapai tujuan. Sekaligus, kewaspadaan makin ditingkatkan dengan mencermati informasi tentang bahaya apa saja yang pernah dihadapi oleh orang-orang yang melewati rute tersebut.

Uniknya, di Amsal, bahaya itu justru datang dari si Bodoh. Lantas, siapa sih yang disebut si Bodoh? Apakah sama artinya dengan idiot? Apakah orang bijak, penyusun Amsal, turut memberi indikasi bilamana seseorang sedang menuju kebodohan dan sudah seberapa jauhkah ia melangkah?

Bodoh = Idiot?
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan “bodoh” sebagai berikut: orang yang tidak lekas mengerti, yang tidak mudah tahu, yang tidak punya pengetahuan, ataupun yang tidak dapat mengerjakan. Umumnya, orang akan mengartikan si bodoh sebagai si idiot, orang yang mempunyai IQ rendah. Namun rupanya, belum tentu demikian, menurut Kitab Amsal.

Para orang bijak (penyusun Kitab Amsal) merujuk gambaran orang bodoh dengan beragam deskripsi. Lantas, siapakah yang dimaksud? Kitab Amsal memang tidak menyajikan dan mengumpulkan jawaban secara terorganisir ke dalam satu ulasan. Sebutan untuk orang bodoh di Amsal tersebar di berbagai bab. Hal ini dapat dimaklumi karena Kitab Amsal bukanlah sebuah buku manual, tetapi sebuah kitab yang membutuhkan pembacaan yang terus-menerus dan berulang-ulang layaknya sedang menjumpai teka-teki (1:6).

Meski demikian, penyusun Amsal menyadari bahwa arah yang dituju adalah mempersiapkan generasi muda yang nantinya akan berkecimpung di tengah komunitas. Mereka perlu dididik sedemikian rupa. Penyusun Amsal meyakini bahwa orang muda haruslah ditantang untuk mentransformasi dirinya sendiri menjadi pribadi yang lebih baik, yang mengerti akan tata kehidupan bersama berdasar rasa takut  hormat bakti) kepada Sang Pencipta, Penyelenggara tatanan alam semesta (1:7). Dengan kata lain, deskripsi tentang orang bodoh merujuk kepada mereka yang meresahkan tata kehidupan bersama, dan bukan kepada gambaran orang idiot.

Komunitas Studi
Bangsa Yahudi, ketika berada di tanah pembuangan Babilon setelah kalah perang, merasa perlu untuk membangun jati diri mereka secara lebih kukuh. Ada tiga penanda jati diri yang selama itu melekat kepada mereka tetapi telah raib, yakni tanah terjanji, raja keturunan Daud, dan Bait Allah. Ketika ketiga penanda jati diri ini lenyap, salah satu hal yang kemudian mereka buat adalah menjadikan komunitas mereka sebagai sebuah komunitas studi. Mereka berkumpul di Sinagoga, mendedikasikan diri untuk mempelajari Torah. Para….

Level si Bodoh…..

Kebodohan: Proses Lembut Menghanyutkan…..

Besi Menajamkan Besi (27:17)…..

Mentransformasi Diri…..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *