Bagi Rasa

LAURENTINA, PI | Badan Pengurus Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau KWI

 

Vox victimae vox Dei. Suara korban adalah suara Tuhan. Ini adalah prinsip dalam melayani dan menemani para korban perdagangan manusia (human trafficking). Setiap jeritan yang saya dengar dari para korban membuat hati saya selalu terusik dan tergerak untuk segara membantu dan menemani mereka.

SUATU malam setelah makan, saya masuk ke kamar. Saat itu, turun hujan rintik-rintik. Saya membuka ponsel dan melihat ada pesan, “Suster, malam ini ada jenazah tiba dengan pesawat Lion Air, pukul 22.55 WITA. Minta maaf, Suster. Tadi siang tidak sempat memberi kabar.” Malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WITA. Kalau dipikir-pikir, lebih enak tidur saja, apalagi di luar sedang gerimis. Itu bisa menjadi alasan untuk tidak datang ke “kargo”. Namun, setelah duduk agak lama dan berdialog dalam hati, akhirnya saya pun mengambil motor dan bergegas menuju bandara.

Dengan mengambil keputusan dalam keadaan tenang, saya merasakan suatu kedamaian. Saya yakin bahwa Allah sendiri yang berbicara dan memanggil saya untuk bertindak. Bagi saya, mendengarkan panggilan para korban merupakan panggilan Tuhan sendiri. Tugas perutusan di bidang anti perdagangan manusia memang tidak mudah, bahkan membahayakan, terutama ketika harus berhadapan dengan para mafia perdagangan manusia. Meskipun demikian, saya percaya bahwa saya tidak berjalan sendirian. Allah Sang Penyelenggara selalu hadir menemani dan memberikan kekuatan pada diri saya dan teman-teman jaringan untuk dapat saling bersinergi dalam melaksanakan tugas ini.

Awal Mula Pelayanan
Saya menjalankan tugas kerasulan anti-human trafficking ini sejak tahun 2012. Saat itu, saya sedang bertugas di Asrama Putri Divina Providentia Maubesi. Saya menerima undangan dari CWTC (Counter Women Trafficking Commission) yang sekarang adalah Talitakum Indonesia. Saya langsung minta izin provinsial untuk mengikuti pertemuan tersebut. Dengan dialog yang lumayan panjang, pimpinan memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan tentang antihuman trafficking.

Setelah pertemuan ini, saya langsung mengadakan sosialisasi pada anak-anak asrama dan orang tua mereka. Setelah itu, saya melanjutkan sosialisasi ke Paroki Maubesi dan asrama putri di sekitar kami. Mengingat bahwa permasalahan ini sangat penting, saya merasa mempunyai kewajiban moral untuk memberikan sosialisasi pada masyarakat di sekitar. Desadesa di sekitar kami merupakan kantong-kantong pekerja migran. Bahkan, ada beberapa desa yang hampir semua anak mudanya merantau ke Malaysia. Menurut cerita masyarakat di situ, sudah sekian kali ada jenazah para pekerja migran yang dipulangkan. Kurangnya informasi membuat hal semacam itu dianggap sesuatu yang biasa saja.

Pada awal tahun 2014, saya berpindah tugas untuk melanjutkan Studi di STISIP Widuri, Jakarta. Di samping studi, saya menjadi relawan di Sahabat Insan bersama Rm. Ignatius Ismartono, SJ yang menaruh perhatian terhadap permasalahan perdagangan orang. Setiap hari Selasa dan Kamis, saya juga aktif untuk kunjungan ke rumah perlindungan (trauma center) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Shelter Bambu Apus. Saat di Jakarta itu, saya dan teman-teman jaringan sering bertemu dengan korban human trafficking asal Nusa Tenggara Timur.

Pada tahun 2015, saya diberi kesempatan oleh pihak Shelter Bambu Apus milik Kementerian Sosial untuk mendampingi 120 anak dan orang dewasa yang akan dikirimkan ke Malaysia dan berhasil digagalkan oleh aparat. Para korban dibina dan diberi keterampilan oleh Dinas Sosial Provinsi NTT sebelum dikembalikan ke keluarga masing-masing.

Membangun Jejaring
Selesai studi, saya kembali ke Nusa Tenggara Timur. Meskipun sudah yang ketiga kali ini ditugaskan di sini, dunia pelayanan yang saya masuki berbeda sama sekali. Saya harus mulai dari awal untuk memasuki “dunia perdagangan manusia” di sana. Ibarat memasuki hutan belantara, saya harus babat alas, berjibaku untuk membabat hutan dan memulai karya pelayanan. Sebagai pendatang baru di dunia anti trafficking, saya belum mengetahui mana lawan mana kawan.

Pertama-tama, yang saya datangi adalah kantor Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili Timor) dan saya langsung bertemu dengan ketua Sinode GMIT, yaitu Pendeta Merry Kolimon bersama dengan dua pendeta senior yang mengurusi permasalahan kebencanaan, termasuk masalah perdagangan manusia. Saya memperkenalkan diri dan menceritakan maksud kedatangan saya, yakni untuk bekerja sama dalam menangani kasus-kasus TPPO (Tindak PidanaPerdagangan Orang), termasuk pendampingan korban.

Selanjutnya, saya sowan ke Bapak Uskup Petrus Turang. Dengan rasa campur aduk saya memberanikan diri pergi ke Keuskupan. Perasaan saya campur aduk karena menghadap beliau tidaklah mudah, apalagi untuk menyodorkan persoalan perdagangan manusia. Saya harus siap pada segala risikonya, termasuk risiko penolakan. Syukur pada Allah, akhirnya saya bertemu dan menyatakan maksud kedatangan saya. Dengan gaya beliau yang tidak suka bertele-tele, Bapak Uskup langsung mengatakan, “Baik, Suster. Silakan kerja sama dengan JPIC Keuskupan Kupang yang menangani masalah itu.”

Beberapa bulan kemudian, saya mencari informasi dari teman-teman dunia maya maupun teman yang pernah saya kenal sebelumnya. Saya sadar bahwa pekerjaan gila dalam melawan mafia perdagangan manusia ini tidak mudah. Oleh karena itu, saya mencoba membangun jejaring untuk bekerja sama dalam menangani kasus-kasus ini. Saya mendatangi mereka satu per satu dan berbagi informasi mengenai permasalahan human traffking serta tentang apa yang bisa dilakukan terkait dengan hal tersebut. Kami pun mulai menjalin kerja sama, antara lain dalam kampanye, sosialisasi, advokasi, dan pendampingan korban.

Tugas kerasulan di bidang perlindungan terhadap para pekerja migran ternyata lebih luas dari yang saya perkirakan semula. Permasalahanyang ditemui dan ditangani bukan hanya terkait dengan para pekerja migran itu sendiri. Kami menjumpai persoalan-persoalan yang dihadapi keluarga-keluarga para pekerja migran dan korban perdagangan manusia. Ada persoalan pendidikan, yakni nasib anak-anak usia sekolah yang ditinggalkan orang tua mereka karena merantau. Ada persoalan ekonomi keluarga, masalah perkawinan, kegiatan prostitusi, kesehatan, dan politik.

Persoalan buruh migran begitu kompleks. Banyak ketidakadilan yang dialami oleh para pekerja migran Indonesia, umumnya oleh majikan mereka. Banyak pekerja mengidap berbagai penyakit karena kurang gizi, tertular HIV/AIDS, atau terkena TBC. Sebagian lain bekerja melebihi batas waktu normal tidak diberi makan, depresi, stres, bahkan banyak terjadi kasus kematian karena kecelakaan kerja dan akibat gizi buruk.

Peran Gereja
Dalam Evangelii Gaudium, Bapa Suci mengatakan bahwa dirinya lebih menyukai “Gereja yang memar, terluka, dan kotor” (EG. 49). Ini adalah suatu tantangan bagi kita. Beranikah kita keluar dari zona nyaman kita? Anjuran Bapa Suci merupakan refleksi kritis bagi peran para religius dalam permasalahan sosial dewasa ini. Jual beli manusia itu jelas melanggar martabat manusia. Yang lebih menyedihkan, banyak kasus perdagangan manusia terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timuryang merupakan wilayah mayoritas Katolik. Dapat dipertanyakan, di mana peran Gereja yang menjunjung tinggi martabat manusia pribadi dan mengajarkan bahwa manusia itu imago Dei? Perdagangan manusia sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi! Masalah ini harus segera ditangani pemerintah dan harus diperhatikan secara serius oleh Gereja setempat.

Dalam menangani kasus perdagangan orang bersama dengan jaringan kemanusiaan, kami selalu berusaha untuk melibatkan Gereja setempat. Gereja mempunyai wilayah yang jelas dan mudah dijangkau dari tingkat kelompok umat basis (KUB) sampai ke tingkat Keuskupan. Di Keuskupan Kupang, kami bekerja secara ekumenis, baik dalam program sosialisasi maupun pendampingan korban di wilayah Timor. Kami membentuk Komisi Keadilan Perdamaian Pastoral Migran Perantau. Kerja sama  ntarkeuskupan meliputi keuskupan pengirim (wilayah NTT), keuskupan transit (Jakarta, Tanjung Pinang, Medan, dan Tanjung Selor), dan keuskupan tujuan, yaitu keuskupan yang ada di wilayah Malaysia (Penang, Kuala Lumpur, dan Keningau).

Setiap Paskah maupun Natal, para romo melakukan kunjungan ke wilayah-wilayah Malaysia untuk melayani umat migran perantau. Manfaat dari kegiatan ini salah satunya adalah untuk memediasi korban dengan keluarganya. Sering kali, setelah bertahun-tahun mereka tidak berkomunikasi dengan keluarga yang ada di kampung halaman. Melalui……….

 

 

 

Selengkapnya di https://tjappetroek.com/product/lagu-syukur-untuk-tuhan-utusan-maret-2020/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *